Change Management
Oleh : Shita Dewi

Kemarin seorang rekan yg sudah mengenal saya selama bertahun-tahun berkomentar  bahwa saya sangat berubah. Saya dulu seorang shopaholic. Saya dulu adalah konsumen impian bagi TNC/MNC/globalized corporation/whatever sebutan yg kalian ingin gunakan. Seberapa parah? Well, let me put it this way: I was a Jimmy Choo collector before the people here even knew who Jimmy Choo is! Pada saat Starbucks ‘akhirnya’ membuka gerai pertamanya di Indonesia, saya adalah salah satu orang yang  tanpa malu membeli (dan kemana-mana menenteng) segelas frappuccino setiap hari.

Tetapi sekarang, saya salah satu yang paling sering ngomel-ngomel tentang pemborosan kertas untuk mem-print, ngomel ttg pemborosan energi, ngomel ttg pencemaran dan perusakan lingkungan, dsb. Bahkan, seperti teman-teman baca di e-mail saya yang lalu, saya adalah salah satu orang yang anti-Starbucks, dan, sejujurnya saya belum membeli sepotong pakaian atau sepasang sepatu baru sama sekali dalam 2,5 bulan terakhir ini.

Kultur consumerism saya sedapat mungkin saya rubah menjadi kultur frugality.
(mmm, saya bisa mendengar seorang rekan berkomentar menyindir, “Hidup Puritan!” ….. well, saya frugal, saya bukan puritan. Tapi tidak apa-lah di’tuduh’ puritan, toh kelompok puritan juga yang mendirikan Harvard tahun 1636-an, hehhehhee ….)

Apa yg membuat saya berubah? Proses perubahan apa yg saya lalui? Bagaimana  perubahan tersebut  di-manajemen-i?

Saya setuju pada pendapat bahwa manusia adalah creature of habits. Banyak sekali perilakunya yang adalah learnt behavior, dan terinternalisasi menjadi ‘kebiasaan’, dan ‘kebiasaan’ adalah salah satu aspek dari kultur.   Oleh sebab itu upaya perubahan  biasanya berhadapan dengan resistensi; resistensi adalah mekanisme self-defense ketika seseorang takut terhadap perubahan. Well, actually, yang kita takuti adalah resiko dari perubahan. Yang kita takuti adalah konsekuensi negatif dari perubahan (misalnya: merugikan, membuat lebih repot, menimbulkan konsekuensi biaya -yg lebih besar-, dsb).

Apa yg bisa mengatasi rasa takut itu?

Well, saya juga percaya bahwa manusia adalah creature of reason. Pilihan yg kita buat seringkali didasari oleh (1) filosofi dan nilai-nilai (values) yg kita miliki, cara berpikir kita, logika dan dinamika argumentasi (pertimbangan pro-kontra), dsb. Saya katakan ‘seringkali’ karena  beberapa pilihan  yg kita buat ada juga yg merupakan (2) pilihan emosional, (3) pilihan yg didasarkan pada rasa dan intuisi, atau (4) pilihan yg dihasilkan oleh kombinasi antara emosi dan rasionalitas. Tentu saja, di luar itu pun ada pilihan yg kita buat yg berdasarkan (5) pragmatism atau kepraktisan, dan dasar-dasar lain. Dalam hal ini, saya secara prejudice (karena kebetulan saya didominasi oleh otak kiri) menyatakan bahwa saya percaya manusia adalah creature of reason.

Jadi, cara paling efektif untuk mengatasi rasa takut saya adalah dengan memiliki pengetahuan yg berhubungan dengan perubahan yg akan saya lakukan, memahami konsekuensinya dan mengantisipasi kemungkinan terburuk, menyadari bahwa ada the bigger cause di balik alasan/dasar perubahan yg akan saya buat. Hal-hal itu yg membuat saya berani mengambil langkah, dan rela kehilangan atau melepaskan hal-hal yg berhubungan dengan kultur atau kebiasaan yg lama (tidak soal betapa nyamannya itu). Bagi saya, perkataan ‘knowledge is power’ memiliki arti sangat luas, dan salah satunya adalah bahwa pengetahuan memberi saya kekuatan untuk mengatasi ketakutan saya. Jadi bagi saya, kuncinya adalah ‘belajar’.

Kita masing-masing memiliki cara belajar yg berbeda-beda. Beberapa melakukan belajar mandiri karena didorong oleh rasa ingin tahu. Beberapa belajar dari orang lain atau belajar dari pengalaman orang lain, karena mempercayai orang tersebut atau ingin meniru keberhasilan orang lain atau ingin menghindari kesalahan orang lain. Beberapa belajar dari pengalaman diri sendiri, karena ingin terhindar dari kesalahan yg sama, atau ingin mengulang suatu sukses pribadi.

Yg perlu kita ingat adalah bahwa tidak ada satu pun di antara kita yg berangkat dari nol. Artinya, sebenarnya banyak prinsip-prinsip dasar yg sudah kita pelajari (atau diajarkan kepada kita) sejak kecil. Misalnya, “buang sampah pada tempatnya”. Prinsip sederhana, tetapi sangat berarti. Jika saja kita tertib membuang sampah pada tempatnya (itu termasuk tidak membuang sampah keluar jendela pada saat kita ada di dalam mobil lho ya!!!), itu sudah menunjukkan bahwa kita peduli untuk memiliki lingkungan yg bersih.

Contoh lain lagi adalah, “Mematikan kran air pada saat tidak digunakan”. Lagi-lagi prinsip sederhana, tetapi besar pengaruhnya.  Pada saat makan siang di sebuat tempat makan, saya memperhatikan bahwa semua orang yg pergi mencuci tangan di wastafel membiarkan kran air tetap terbuka pada saat mereka mengambil sabun dan menyabuni tangan. Memang hanya 15 detik, tetapi coba saja lihat berapa banyak air yg dibuang selama 15 detik itu jika ditampung di ember. Memang hanya 15 detik, tetapi itu adalah 15 detik per orang.  Memang orang yg pergi mencuci tangan tidak lebih dari 15 orang, tetapi itu adalah 15 orang dalam 1 jam, 1 jam di antara 10-12 jam jam buka tempat makan tsb. 10-12 jam per hari, di antara 30 hari dalam sebulan.1 tempat makan di antara ribuan tempat makan lain di  Jogja.
Terbayang efek kumulatifnya?

Hal yg sama seringkali saya temui di kamar mandi umum di kampus, misalnya. Seringkali saya mendapati kamar mandi yg kosong tetapi kran airnya terbuka dan air mengalir dengan derasnya ke dalam bak yg sudah penuh (yg tentu saja artinya: air tumpah ruah terbuang ke saluran pembuangan). Entah sudah berapa lama kran air dibiarkan terbuka seperti itu.
Atau kebiasaan “lupa” mematikan lampu dan AC pada saat meninggalkan ruangan (entah lupa beneran atau beranggapan bahwa akan ada orang lain yg akan mematikan).

Hal-hal sederhana yg sudah kita pelajari sejak kecil, yg tidak butuh biaya apa pun untuk melakukannya, dan tidak butuh ekstra energi utk melakukannya.  Lalu kenapa kebanyakan dari kita  lalai melakukannya?
Apa pun jawaban kita pribadi terhadap pertanyaan itu, tolong jangan katakan kepada saya bahwa itu karena kita tidak peduli.

Ada suatu istilah yg mungkin teman-teman sering dengar: “Ignorance is bliss”, atau “What you don’t know, can’t hurt you”. Jadi, lebih nyaman utk tidak tahu apa-apa tentang sesuatu, daripada tahu tetapi harus melakukan sesuatu.

Saya beruntung memiliki teman-teman yg sangat peduli pada isu-isu kelompok “kiri” ini (misalnya social justice, ecoliteracy, green living, sustainable economy, renewable energy, equality, equity, dll). Jadi, dari prinsip-prinsip dasar yg saya miliki, saya bisa berkembang, di-nurture and di-reinforce oleh pergaulan dan diskusi dengan teman-teman, tambahan bahan literatur yg dipelajari, dan  contoh-contoh tindakan nyata sehari-hari. Jadi, saya bukan hanya tahu, tetapi saja juga jadi bisa melihat dan merasakan bahwa perubahan itu mungkin; bahwa saya bisa berubah; bahwa perubahan itu tidak merugikan; bahwa perubahan itu menyenangkan; bahwa perubahan itu memiliki efek kumulatif; bahwa perubahan itu juga memiliki efek domino. Artinya, saya juga jadi tergerak untuk menganjurkan orang-orang lain untuk berubah.

Tetapi, apa yg membuat saya ingin berubah?

Pengetahuan saja tidak cukup. “Tahu/sadar bahwa kita harus berubah” tidak sama dengan “Mau/ingin berubah.”
“Tahu/sadar bahwa kita harus berubah” ada pada level kognisi/otak.
“Mau/ingin berubah” berada pada level yang lebih internal. Apakah itu?

Saya percaya bahwa tidak soal seberapa banyak kita menjejali dan mendoktrinasi seseorang dengan pengetahuan dari ribuan ensiklopedia, orang tersebut tidak akan berubah kalau ia tidak mau berubah, tidak mau mengambil tindakan. Kalau seseorang tidak pernah mau mengambil tindakan, ia tidak akan pernah memiliki experience/pengalaman perubahan itu, sehingga tidak punya mekanisme self-reinforcement, sehingga tidak bisa mempertahankannya dalam jangka panjang, sehingga perilaku baru itu tidak pernah terinternalisasi menjadi habits/kebiasaan.

Jadi, saya percaya bahwa motivasi adalah penggerak momentumnya, setelah itu, positive experience akan memperkuatnya, setelah itu internalisasi sebagai kebiasaan baru akan mempertahan momentum itu menjadi kebiasaan baru (jadi, perubahan tidak sekedar menjadi fad/trend sesaat, tetapi berkelanjutan menjadi perilaku baru).

Darimana motivasi kita berasal? Well, lagi-lagi setiap orang didorong oleh motivasi yg berbeda.
Bagi saya, motivasi saya berasal dari cinta. OK, mungkin kedengarannya terlalu ‘hippie dippie’, tetapi saya mengakui bahwa motivasi saya untuk berubah adalah cinta.

Saya cinta kepada sesama saya, teman-teman saya, keluarga saya, jadi saya ingin kita semua bisa hidup di bumi yg bersih, menikmati kualitas hidup yg baik.
Saya cinta bumi yg saya tinggali: saya cinta tanah yg saya pijak, saya cinta air yg menjadi sumber kehidupan saya, saya cinta udara yg saya hirup.
Saya cinta kepada  jutaan spesies menakjubkan  yang ada di  udara, darat, dan laut.

Saya belum memiliki anak, dan mungkin saya tidak akan memiliki anak, tetapi seandainya suatu saat saya memiliki anak, maka saya ingin anak saya bisa hidup di bumi yg masih layak ditinggali, saya ingin anak saya tumbuh dalam lingkungan dimana risiko polusi udara, tanah, dan air sudah minim atau setidaknya lebih rendah dari saat ini, saya ingin anak saya tumbuh di dalam sistem ekonomi yg sustainable dan bukan sistem ekonomi yg tamak, saya ingin anak saya tumbuh di dalam sistem masyarakat yg peduli bukan masyarakat yg tidak peduli, saya ingin anak saya tumbuh menyaksikan sendiri keragaman tanaman dan hewan bukan cuma yg bisa dilihat melalui foto, gambar, film atau museum.

Kecintaan saya membuat saya rela melepaskan gaya hidup konsumerisme dan beralih ke frugality. Saya tidak mau lagi menjadi konsumen yg ignorant. Saya memilih untuk menjadi konsumen yg peduli pada apa yg saya beli, pada nilai apa yg dianut oleh pembuat produk yg saya beli, pada apa yg direpresentasikan oleh pilihan yg saya buat. Saya kini menyadari bahwa setiap rupiah yg saya keluarkan adalah vote yg saya berikan: bahwa saya setuju dengan bagaimana caranya produk ini dibuat, saya setuju dengan nilai apa yg dianut oleh pembuatnya, saya setuju dengan bahan apa yg digunakan untuk membuat produk ini, saya setuju dengan dampak lingkungan apa yg dihasilkan oleh proses pembuatan produk ini, dst.

Kecintaan saya membuat saya rela melepaskan kenyamanan berkendara dengan mobil ber-AC dan beralih ke sepeda.Kecintaan saya membuat saya rela dituduh puritan atau sosialis atau tukang ngomel-ngomel atau apa pun itu.