Belajar terus sepanjang hayat menuju kesempurnaan


Jakarta, 13 November 2008
Merupakan deskripsi pribadi.

Tulisan ini sudah pernah saya tulis di bog lama, dan sengaja  saya perbaharui agar lebih enak di baca. Satu pelajaran yang saya peroleh di Jakarta bersumber dari orang-orang (rakan, sahabat atau kawan baik) yang mereka akan ikut bangga dengan keberhasilan kita yaiatu apabila dapat menjadi “orang besar“.

Seperti kami di Dunia konsultasi. Dunia Konsultan penuh dengan tantangan. Kecenderungan bagi yang sudah terjun memiliki konsekunensi bahwa sepanjang waktu yang di miliki akan habis sebagai bentuk komitmen. Kehidupan ber-Keluarga, ber-Sosial dan lain-lain tidak dapat kita nikmati secara umumnya(seperti orang lain). Namun itulah dunia konsultasi, yang memerlukan pengorbanan dari orang-orang yang sudah memilih berada di dalam untuk dapat fokus terkait bidang keahlian masing-masing…

Satu hal yang perlu diperhatikan, konsultan dalam (di Indonesia) sebagaian besar belum memiliki mental yang kuat seperti Konsultan Asing. Banyak bukti-bukti seperti : Pertama, jarang berani keluar kandang untuk melihat masalah dari sisi yang berbeda dengan cara meninggalkan kemapanan. Apabila harus tinggal berlama-lama di suatu wilayah maka masih harus berfikir 100 X untuk memutuskannya.

Kedua, menginginkan hasil (output/gaji) yang besar tetapi dengan tidak memprioritas waktu dan pikiran secara full terhadap pekerjaannya.

Ketiga, Tidak berani mengambil sikap bebas. Artinya masih ingin aman dengan cara menjadi pegawai di suatu lembaga yang mungkin tidak merasa nyaman berada di sana.

Nah pertanyaannya, bagaimana kita dapat memilih nya???

Solusi…

pertama, untuk menjadi konsultan dengan penghargaan yang setara dengan konsultan asing diperlukan pengorbanan awal. Semisal mau bekerja di negara asing meskipun dengan HR yang awalnya hanya rata-rata.

Kedua, Mau lepas dari belenggu kemapanan, yaitu tidak terikat gaji tetap tetapi lebih memilih kebebsan untuk dapat mengembangkan diri… dengan asumsi ketika sudah berkembang baik tentu saja dari sisi materi tidak usah di tanya akan ikut dengan sendirinya..,

Ketiga, Buat jaringan yang semakin luas dengan cara bekerja dengan semaksimal untuk lembaga yang mengontrak kita dengan baik dan tinggalkan pengalaman yang baik..

Nah sahabat… bagaimana dengan anda, siapkah memulai menjadi yang terbaik…? Kalau belum siap tidak menjadi masalah. “Mengalir seperti air, berhembus seperti angin dan menyebar seperti cahaya”.

Selamat belajar dan berjuang ….untuk menjadi terbaik.

Sepenggal cerita ini semoga dapat menjadi bahan pendorong dan sekaligus introspeksi kita, bahwa menjadi lebih baik harus dilakukan terus dengan belajar terus sepanjang hayat agar dapat menuju kesempurnaan..

Wassalam

Ki Hariyadi
(Statistisi & Peneliti Kesehatan Masyarakat)

Tinggal di Sleman, Jogjakarta.